Saya memandang proses mengenal diri sebagai sesuatu yang terus berjalan. Cara saya belajar dan berpikir berubah seiring pemahaman saya terhadap dunia dan konteks di sekitar saya. Karena itu, saya cenderung berhati-hati dalam menarik kesimpulan dan tidak terburu-buru dalam menilai suatu hal.
Saya tumbuh di lingkungan yang sederhana, tempat kebiasaan sering lebih dominan daripada pertimbangan rasional. Pengalaman tersebut membentuk cara saya melihat berpikir kritis sebagai keterampilan yang perlu dilatih secara sadar. Bertanya dan meragukan hal-hal yang dianggap wajar menjadi bagian penting dari cara saya memahami realitas.
Minat saya mencakup beberapa bidang, seperti musik, teknologi, dan pemikiran sosial. Musik membantu saya memahami pola dan keteraturan, teknologi memberi ruang untuk menguji logika secara konkret, dan membaca menjadi sarana untuk memperluas sudut pandang agar tidak terjebak pada satu cara berpikir saja.
Di STEI-K ITB, saya berada dalam lingkungan akademik yang menuntut ketelitian dan struktur. Dari situ, saya semakin menyadari bahwa kecerdasan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga dengan cara seseorang memahami dampak dari keputusan dan hasil kerjanya. Saya berusaha menjaga keseimbangan antara ketepatan logis dan pertimbangan kemanusiaan.
Saya bukan pribadi yang banyak berbicara, namun lebih memilih mengamati dan mendengarkan. Bagi saya, proses memahami sering kali lebih efektif dilakukan dengan memberi ruang pada situasi dan argumen yang sedang berlangsung, terutama dalam diskusi yang jujur dan terbuka.
Tujuan saya sederhana. Saya ingin terus belajar tanpa kehilangan arah dan makna dari proses itu sendiri. Saya memandang pendidikan sebagai tanggung jawab terhadap pikiran sendiri, bukan sekadar pencapaian formal atau akumulasi pengetahuan.
Pada akhirnya, saya ingin menjadi seseorang yang berpikir dengan tenang, bekerja dengan sadar, dan hidup dengan alasan yang jelas. Karena saya percaya, semua hal—selagi itu masih ada di dunia—adalah objek diskursus, dan tidak ada makhluk Tuhan yang cukup cerdas untuk melarang seseorang andil berpikir dan berkata.